Posted by admin on October-20-2009 Add Comments

Bugis Di Madagascar

Madagascar dengan ibukotanya Antananarivo dengan populasi 18,6 juta jiwa kita kenal sebagai sebuah negeri bekas koloni Perancis, yang berdaulat pada tahun 1947 atau lebih tepat kita katakan sebuah Kemerdekaan Hadiah, bukan sebuah kemenangan revolusi.

Tetapi dalam proses/perjalanan konstitusi dan referendum Negara baru secara penuh ditetapkan tanggal 26 Juni 1960 sebagai Hari Kemerdekaan Madagascar. Nama Antananarivo sendiri bermakna TANAH 1000 pejuang, terukir melalui relief di gedung museum sejarah mereka ada 1000 pejuang yang tewas ketika mempertahankan kota dalam memperjuangkan kemerdekaan yang mereka tuntut pada masa itu.

Negeri yang dalam cerita lama lebih kita kenal melalui film RIN TINTIN cerita seekor anjing yang pintar (pada zaman TV masih B&W) sebagai pulau buangan para hukuman dengan luas pantainya sebesar 5000 km, cukup terkenal dengan kekayaan alamnya berupa batu permata, minyak-bumi, uranium.

Dari sinilah para pedagang dunia dari Eropa, Thailand, China, Sri-lanka, Malaysia dan Indonesia mengambil batu mulia sejenis Syafir Ruby & Emerald serta fosil kerang panca-warna berusia jutaan tahun yang bagi masyarakat China Hongkong rela membayar mahal dan selalu dikantongi sebagai pembawa rezeki & keberuntungan.

Sejarah mengukir pada zaman abad ke VII SM, Madagascar menjadi pulau tujuan dan persinggahan bahari nenek moyang pelaut Indonesia selain wilayah pesisir yang dihuni oleh kaum kulit hitam yang tidak jelas asal usulnya, sebagian menyebutnya dari Mozambique, sebuah pulau yang hanya terpisah sejarak benang tipis saja.

Inilah awal sejarah mengapa orang Madagascar lebih senang disebut bangsa Malagassy daripada bangsa Africa. Memang kalau kita melihat mereka tidak ada bedanya dengan orang Indonesia, warna kulit yang sawo matang, rambut yang ikal (tidak ngerungkel) seperti Africa pada umumnya dan postur badan Indonesia yang sedang-sedang saja dengan sorot mata khas Indonesia yang aduhai friendly.

Anda bisa lihat photo President Madagascar Marc Ravalomanana sama persis postur & bentuk wajahnya dengan orang Indonesia pada umumnya.

Siapa Marc, yang dalam kepiawaiannya digelanggang politik melalui pemilu 2002, Marc berkiblat dibawah panji Amerika yang memberi dukungan penuh ketika mengambil-alih kekuasaan sosialis dari penguasa lama, dan dia membawa perubahan demokrasi secara perlahan serta pemikiran yang maju untuk mencerdaskan rakyatnya. Dibawah kebijakannya pula dalam 10 tahun terakhir ini Bahasa Inggris menjadi mata pelajaran bahasa wajib dalam kurikulum pendidikan.

Secara resmi ada 2 bahasa official, bahasa Perancis mereka pakai sebagai bahasa kedua dan bahasa nasional mereka disebut Bahasa Merina dengan dialek Malagasy (campuran bahasa Melayu Indonesia). Awalnya Marc hanyalah seorang pengusaha trading/distribution consumer goods yang mengawali karirnya sebagai Walikota Tananarive dan sampai detik ini gurita bisnis sang presiden mulai mendominasi pangsa pasar consumer goods dari hulu sampai hilir.

Kembali kita ke awal cerita …
Dan memang dalam catatan sejarah Madagascar, mereka mengakui bahwa para leluhur mereka memang datang dari kepulauan Indonesia (Indonesia Timur dan Pulau Jawa). Sejarah ini juga tertulis di KBRI kita di Antananarivo.

Kalau melihat sejarah kelautan Madagascar dengan kehidupan budaya nelayannya ada dugaan suku BUGIS atau Makasar dan suku JAWA yang pertama menemukan kepulauan ini pada abad ke VII SM tersebut.

Kata Makasar dipakai untuk sebutan bagi para seniman, pelukis dan pemahat – juru photo. Penulis belum menemukan apakah kata Madagascar berasal dari kata Makasar yang kemudian berubah karena pengaruh bahasa koloni Perancis. Dari sisi bahasa bisa pula ditelusuri banyak ditemukan kosa kata indonesia dan dialek daerah yang sama seperti (Joko/Jaka Rondo/janda-mambunuh-murah-salam-manjahit-minakan = dibaca makan-tai (maaf)=tai, bolo=dibaca bulu dll) untuk bilangan hitungan sama dengan bahasa jawa > Sidji – Loro – Telu – opat – limo dan seterusnya.

Berkaitan dengan bahasa ini, seorang Missionaris WNI dari Vatican Imprimerie Chatolic Romo Dosmen D. Marbun, telah menerbitkan sebuah buku percakapan pada 2006 lalu yang diakui KBRI & Kementerian Pendidikan & Budaya Madagascar, sebagai pembuktian Sejarah & Budaya. Bahwa Indonesia & Madagascar memang terkait erat, hubungan ini sampai saat ini terus berkesinabungan melalui pentas budaya, pendidikan beasiswa D1-S1 dan S2 yang tersebar di PTN di Jawa & SESKO AD.

Tercatat juga ada 2 Jendral dari Angkatan Bersenjata Madagascar yang merupakan Alumni Sesko-AD, Bandung dan 1 orang scholar Master di bidang agama Islam yang saat ini bekerja sebagai staff local di KBRI Antananarivo.

Dalam perjalanannya, KBRI kita juga membuka kursus Bahasa Indonesia dengan biaya relative murah dan cukup diminati generasi muda Malagasy. Kursus ini dibina dengan sangat baik oleh Drs. Adi Roagaswara, seorang alumni dari Universitas Pakuan Bogor. Uniknya di Mada (Maksudnya: Madagascar) berlaku 2 pemisahan asal, kita bisa melihat sebuah kondisi adanya 2 kasta yang berbeda, untuk Malagasy keturunan Indonesia dengan warna kulit yang sawo matang mereka sebut dirinya orang Tananarive (orang Kota), sedangkan orang Malagasy hitam dari keturunan Africa disebut orang pantai.

Dan untuk di pemerintahan pada umumnya didominasi orang Tananarive, orang pesisir pada umumnya banyak yang bekerja sebagai pedagang/kuli kasar dan comunitas mereka dalam catur pemerintahan/politik selalu di nomor-dua-kan oleh kaum berkuasa orang Tananarive.

Kesenjangan social memang cukup terlihat antara kaum Tananarive dan kaum pesisir. Sebuah celah dan potensi mudahnya membakar mereka yang dimanfaatkan oleh para pemain/konseptor catur politik dunia “AMERIKA“ karena kesenjangan inilah orang pantai membentuk aliansi politik sebagai partai oposisi.

Adalagi yang menarik dari orang Malagasy, banyak diantara orang Tananarive yang menikah dengan orang perancis dan keturunan mereka disebut Malagasy Methys, wajahnya sangat rupawan menawan dan umumnya diantara mereka banyak yang sukses dalam karir Business & Politik.

Namun demikian Madagascar masih tercatat dalam urutan ke-25 sebagai negara termiskin se-Africa yang beresiko tinggi untuk menjalin mitra business bagi investasi asing (Data survey 2005 African News).

DIEGO SUAREZ & SAINTE MARIE, adalah 2 pulau wisata yang sangat indah dan menawan atau dikenal juga dikalangan masyarakat Eropa sebagai pulau BALI-nya Madagascar.

Kedua pulau ini memberikan kontribusi bagi devisa negara dari kunjungan wisatawan dari manca negara … untuk sampai kesana via udara + – 1jam perjalanan atau 10 jam perjalanan via darat dari Antananarivo atau tepatnya kota wisata ini berada 3 jam perjalanan darat via Tamatave.

Jika kita berkunjung ke Diego Suarez ada pemandangan yang terasa janggal bagi kita dimana mana kita akan melihat PRIA TUA ber-usia 40 s/d 50 tahunan yang bergandengan tangan dengan dara dara muda belia seusia 15 tahunan … sesungguhnya mereka adalah pasangan suami istri .

Disini ada tradisi yang sudah mengakar para lelakinya selalu kawin dalam usia tua dengan gadis gadis muda yang masih begitu ranum & mengkal (emangnya mangga muda eeehhh).

Memang ada Alkisahnya kata yang empunya cerita … bahwa para pria di Diego Suarez termakan oleh kutukan para leluhurnya (di Mada kepercayaan Animisme/traditional masih mendominasi 50 % dari kepercayaan yang ada/Islam hanya 10 % dan 40% Kristen & Katolik ) dan sampai saat ini kehidupan SEX bebas masih menjadi tradisi umum yang dianggap sebagai hal biasa biasa saja dan kondisi ini jugalah yang menyebabkan AIDS tumbuh laksana jamur, adalah hal yang biasa anak dara seusia 12 tahunan sudah bukan perawan lagi.

Sementara untuk di SAINTE MARIE sendiri … dalam setiap bulan Sept s/d Des selalu dikunjungi wisatawan, ada yang unik disini… kalau di Indonesia kita tidak diperbolehkan untuk melihat ORANG KAWIN yang sedang berhubungan intim, maka di Saint Marie kita bisa melihat banyak IKAN PAUS yang sedang bercinta di dalam air (tanpa busana lagi eeehhh) jadi setiap 3 bulan dalam setahun ikan paus memasuki perairan Saint Marie untuk melakukan prosesi KAWIN MASSAL sesama paus betina, dan adegan ini bisa disaksikan para wisatawan dalam jarak 50 meter dari atas palka kapal wisata mungkin ada rasa malu diantara mereka kalau mereka kawin kita saksikan dalam jarak yang terlalu dekat, budaya paus-kawin ini tidak memerlukan tuan Kadhi eeehhh, cukup kesaksian para penonton.

Mempelajari kebiasan mereka (Ikan Paus-Kawin) yang selalu mudik untuk kawin ke Sainte Marie mungkin bagi mereka perairan ini begitu indahnya laksana sebuah peraduan pelaminan pengantin baru para selebritis.

Disini juga ada sebuah Hotel Terapung yang berada ditengah danau dangkal dan jika kita menginap disana kita harus berjalan di air sedalam 30 s/d 50 cm sembari menjunjung kopor , jadi bisa dibayangkan juga seandainya ada Tsunami disana bisa bisa kita terbawa harus kembali ke Ancol …siapa tauuuuuuuu. (ketika terjadi Tsunami di Indonesia, Madagascar tepatnya di Tamatave juga mengalami hal yang sama tetapi hanya tercatat beberapa orang saja korban dari kaum nelayan).

Bagi wisatawan yang berkantong tipis ada alternatif lain untuk menginap ditempat yang relatif lebih terjangkau seperti menginap di pondok pinggir pantai dibelahan sudut lain Sainte Marie yang disekeliling nya bertumbuhan pohon kelapa dan kalau lagi apes bisa bisa ketimpa buah kelapa tua yang jatuh diatap pondok penginapan . Tidaklah mengherankan setiap wisatawan yang datang dan menginap di pondok yang disampingnya ada pohon kelapa, sang receptionist selalu mengingatkan ketika ketika bercinta, jangan membuat gempa terlalu kuat agar kelapanya tidak jatuh berguguran (eeehhh ada ada aja mas.. ayoooo mas, siapa yang pingin bermain main dibawah pohon kelapa?).

Pernah pula sebuah kejadian lucu saya alami, dimana kebetulan hobby saya bercocok tanam bunga dan saya meminta pembantu saya waktu itu yang notabene masih anak dara tersebut untuk menanamnya, saya katakan: “tolong tanamkan bibit ini…” Dia pun mengerjakannya sambil tersipu-sipu malu, saya antara bingung dan ingin tau ada apa rupanya, akhirnya dia jelaskan kalau pengertian “BIBIT” adalah sebutan buat “PUSAKA” warisan ayah.

Jadi anda bisa bayangkan kalaulah ada Diplomat Indonesia yang bertugas di KBRI Madagascar dengan nama BIBIT JOKO WALUYO maka pasti orang tersebut akan menjadi sumber lelucon bagi orang Malagassy. (Bibit = kemaluan lelaki + Joko = jejaka ) alahhhhhhhh mak…!

Di lain kisah …. anda pasti mengenal Nirina Zubir sang presenter & artis yang lagi meroket saat ini menuju jenjang DIPA Indonesia.

Bagi Nirina Zubir, kota Antananarivo tidak akan pernah terlupakan, karena disinilah dia dilahirkan, ketika ayahnya bertugas sebagai Diplomat KBRI Madagascar. Nirina sendiri bermakna: Putri Cantik Pemalu.

Dari temuan literatur sejarah Bahari ada sekelumit noktah indah yang berharga bahwa :

Untuk mengenang sejarah Samudra Bahari Indonesia yang telah diukir para leluhur kita para PELAUT muda Indonesia melakukan Napak Tilas Samudra dari Indonesia ke Madagascar dengan perahu layar :

1. Ekspedisi kapal layar SARIMANOK pada tahun 1985
2. Ekspedisi kapal layar AMANAGAPPA pada tahun 1991
3. Ekspedisi kapal layar SAMUDERA RAKSA BOROBUDUR pada tahun 2003

Anda bisa bayangkan Napak Tilas Samudera hanya dengan perahu layar sebuah perjalanan membosankan & melelahkan dengan resiko tinggi. Memang Tuhan melindungi perjalanan ini terukir sukses sesuai harapan para pelaut kita. Untuk Ekspedisi ke-3 Samudera Raksa Borobudur ini disambut langsung oleh Dubes Indonesia & President Marc Ravalomanana beserta Menteri Kebudayaan Republik Madagascar sebagai suatu kehormatan.

Kalau di Indonesia kita memiliki sebuah Pohon Nasional “Beringin“ yang dulu kita kenal sebagai sebuah symbol Partai Sangat Berkuasa demikian juga bagi suku Mayan di Guatemala yang sangat memuja pohon nasional mereka “Ceiba Tree“ maka rakyat Madagascar juga memiliki Pohon Nasional yang mereka lindungi “Bao Bao“ pohon ini sejenis palm bisa tumbuh dan bertahan puluhan tahun bentuknya menjulang tinggi dengan ranting & daun yang sedikit…cukup unik. Dan jangan heran berbagai jenis bunga yang popular di Indonesia dengan harga puluhan juta rupiah banyak berserak dipinggir jalan pegunungan batu Madagascar disepanjang jalan menuju Tamatave (Saya hanya bisa tertawa getir menyaksikan istri membayar mahal satu pot bunga gelombang cinta) yang di Mada sendiri terlihat tumbuh liar dipinggir jalan.

Ada satu jenis lagi sebuah pohon hias dengan duri dan getah putih yang banyak cukup popular di Jakarta, padahal pohon ini di Mada ditanam didepan pagar yang diyakini mereka sebagai penangkal setan & guna-guna.

Demikianlah sekelumit cerita dari saya sebagai santapan mata anda dikala senggang dan mohon maaf jika ada torehan pena yang salah. Karena memang dituntaskan dari sebuah komputer Pentium III-tua yang sudah usang. Salam setepak sirih sejuta pesan – dari Bumi Kinshasa Congo : Erfan Ahmad Piliang.

Sumber: Pralangga.Org

Posted by admin on October-20-2009 Add Comments

Bugis Afrika Selatan

DARI manakah sebenarnya asal usul orang Bugis yang kini bermukim di Afrika Selatan? Dari Malaysia atau dari Makassar?

Pertanyaan itulah yang dibawa Duta Besar Afrika Selatan untuk Indonesia Graffits Memela ketika bertemu Gubernur Sulawesi Selatan Syahrul Yasin Limpo dalam kunjungannya ke Sulsel, Senin (12/5) malam. Sebab, menurut Graffits, selama ini ada anggapan bahwa orang Bugis di negaranya berasal dari Male (Malaysia). Sementara itu, pemerintah Sulsel menyatakan orang Bugis di Afrika itu berasal dari Sulsel.

“Mana yang benar?” Begitu kira-kira pertanyaan yang dilontarkan Graffits kepada Syahrul Limpo dalam pertemuan silaturahmi kedua pejabat di rumah jabatan Gubernur Syahrul.

Menjawab keraguan Graffits itu, Syahrul yang baru sebulan dilantik sebagai Gubernur Sulsel periode 2008-2013 menegaskan bahwa orang Bugis Makassar di Afrika adalah keturunan Syeh Yusuf, ulama dan pejuang yang berasal dari Sulawesi Selatan yang dibuang pemerintah Belanda ke negara itu pada abad ke-16.

“Syekh Yusuf adalah keturunan Raja Gowa (Sulsel) yang diasingkan pemerintah Belanda ke Afrika yang kemudian mengajarkan agama Islam sekaligus berjuang membela Afrika dari penindasan penjajah di negara tersebut,” katanya. Lalu, dari hasil perkawinan pengikut Syekh Yusuf inilah berkembang keturunan orang Bugis Makassar hingga saat ini di Afrika.

Bahkan, tambah Syahrul, kuburan ulama kharismatik dan pejuang dari Gowa itu ada di Afrika dan di kabupaten Gowa, Sulsel. Ini membuktikan bahwa hubungan darah antara rakyat Afrika dan Indonesia khususnya Gowa sudah menyatu sehingga perlu dijalin kerjasama budaya dan pendidikan di negara itu.

Kerja sama pembangunan

Pertemuan Syahrul-Graffis itu sendiri dilakukan dalam kaitan rencana pembangunan arsitektur rumah adat Balla Lompoa di Cape Town oleh Pemprov Sulsel pada tahun 2009 nanti. Graffits sendiri berharap agar pembangunan miniatur balla lompoa di negaranya termasuk bangunan perpustakaan serta duplikat benda-benda bersejarah dan budaya orang Bugis-Makassar itu segera direalisasikan.

Dalam pembicaraan singkat sebelum dijamu makan malam bersama isteri dan sejumlah rombongan yang menyertainya, Dubes Arfika Graffits menambahkan bahwa negaranya juga akan membangun pendidikan di Afrika Selatan supaya masyarakat bisa berbahasa Indonesia dan mengenal lebih dekat budaya Indonesia khususnya budaya Sulawesi Selatan.

“Pemerintah Afrika dan Indonesia sudah menandatangani kerja sama (MoU) bidang pendidikan dan kebudayaan saat Presiden Susilo Bambang Yudhoyono berkunjung ke Afrika tahun lalu,” ungkapnya.

Syahrul didampingi Bupati Gowa, Ichsan Yasin Limpo menambahkan bahwa rencana pembangunan Balla Lompoa dan perpustakaan di Cape Town akan direalisasikan tahun 2009 sebagai perwujudan sejarah antara pemerintah Indonesia (Sulsel) dan pemerintah Afrika.

“Bahan bangunan arsitek miniatur Balla Lompoa akan diangkut kapal laut yang dimasukkan dalam kontainer ke negara tersebut,” ungkapnya.

Posted by admin on April-24-2009 one Commented

Raja-Raja di Malaysia Berdarah Bugis

Dari sembilan raja yang memerintah di Malaysia, ternyata pada umumnya merupakan keturunan Raja Bugis dari Kerajaaan Luwu, Sulawesi Selatan.

Hal itu terungkap pada Seminar Penelusuran Kerabat Raja Bugis, Sulsel dengan raja-raja Johor-Riau-Selangor, Malaysia di Makassar, Rabu.

“Berdasarkan hasil penelusuran silsilah keturunan dan tinjauan arkeologi diketahui, 14 provinsi di Malaysia, sembilan diantaranya diperintah oleh raja yang bergelar datuk (dato`) atau sultan, sedang empat provinsi lainnya diperintah gubernur yang bukan raja,” kata Prof Emeritus Dato` Dr Moh Yusoff bin Haji Hasyim, President Kolej Teknologi Islam Antarbangsa Melaka.

Menurut dia, dari segi silsilah, kesembilan raja yang memiliki hak otoritas dalam mengatur pemerintahannya itu, berasal dari komunitas Melayu-Bugis, Melayu-Johor dan Melayu-Minangkabau.

Posted by admin on April-23-2009 2 Commented

Tradisi Bugis dalam Perkahwinan

Suku kaum Bugis di Sandakan, Sabah masih mengekalkan adat dan tradisi walaupun telah lama bermastautin di Sabah. Keunikan budaya suku kaum Bugis jelas dipaparkan dalam majlis perkahwinan. Sebelum majlis perkahwinan, masyarakat Melayu yang beragama Islam akan mengadakan adat merisik dan meminang. Walau bagaimanapun, bagi kaum Bugis, tiada pula adat pertunangan. Bagi mereka, yang paling penting ialah hari pernikahan. Ibu bapa kaum Bugis beranggapan bahawa pertunangan boleh menimbulkan fitnah dan syak di kalangan masyarakat. Hal ini timbul kerana tempoh pertunangan yang lama memungkinkan fitnah dan syak.

Walaupun begitu terdapat majlis yang menyerupai adat bertunang, tetapi masyarakat Bugis tidak menganggapnya sebagai adat bertunang. Majlis ini digelar ?men?drek doik? yang membawa maksud ?naik duit?. Dalam majlis ini, pihak lelaki akan membawa wang hantaran yang telah ditetapkan semasa meminang. Sebilangan besar daripada keluarga pihak perempuan akan menerima kesemua wang hantaran dan selebihnya hanya menerima sebahagian sahaja. Oleh yang demikian, semasa dulang hantaran diberikan ketika majlis pernikahan, dulang wang hantaran sekadar simbolik sahaja, kerana wang hantaran telah pun diserahkan kepada pihak perempuan untuk menampung kos perbelanjaan majlis persandingan. Majlis ?naik duit? tidak dibiarkan hambar kerana kemeriahan penting bagi suku kaum ini.

Pihak pengantin lelaki juga akan menyarungkan cincin sebagai tanda ikatan sebelum tiba majlis pernikahan yang berlangsung selepas tiga hingga tujuh hari setelah majlis ?naik duit?. Selepas majlis ini, kemeriahan di rumah kedua-dua mempelai akan berterusan dan ramai keluarga dari jauh yang akan datang terutama dari Sulawesi. Kedatangan kaum kerabat mereka akan meriuhkan suasana perkahwinan tersebut. Majlis perkahwinan suku kaum Bugis di Sabah memaparkan betapa kuatnya pegangan adat tradisi mereka. Seminggu sebelum majlis persandingan, dua orang wanita dipertanggungjawabkan oleh pihak pengantin perempuan untuk menjemput tetamu. Kedua-dua wanita ini terdiri daripada mereka yang telah berumah tangga. Wanita yang belum berumah tangga tidak manis berkunjung dari rumah ke rumah untuk menjemput tetamu. Bagi kaum Bugis, wanita yang belum berkahwin tidak digalakkan menjemput tetamu kerana dikhuatiri lambat menerima jodoh.

Kedua-dua wanita ini digelar pattampa yang bermaksud pemanggil tetamu. Pattampa akan mattampa, iaitu berkunjung dari rumah ke rumah. Pattampa tidak datang dengan tangan kosong, tetapi akan membawa dulang yang dibalut dengan kain berwarna dan bermanik. Dulang ini diisi dengan dua bungkus rokok pelbagai jenama berserta mancisnya sekali. Rokok, suatu ketika dahulu ialah lambang prestij sesebuah keluarga. Hanya golongan yang berkemampuan yang mampu memilikinya dan adat ini masih dikekalkan walaupun kini masyarakat sudah mampu membeli rokok dengan harga yang murah. Tetamu yang dijemput perlu membuka dulang dan mengambil sebatang rokok lalu membakarnya. Adat ini penting terutama bagi tetamu yang mempunyai anak dara, kerana dengan cara ini diharapkan anak mereka pula yang akan menemui jodoh. Walau bagaimanapun, adat mattampa hanya terkenal di kalangan kaum Bugis, kaum lain dijemput dengan menggunakan kad undangan. Kad undangan ini tidak banyak bezanya daripada kad undangan majlis anjuran kaum lain di Sabah. Malam berinai atau mappacci cukup meriah, kerana pada malam ini pelbagai acara yang menarik akan berlangsung. Malam berinai akan dimulakan dengan majlis khatam al-Quran, disusuli dengan majlis berzanji.

Posted by admin on April-23-2009 one Commented

Lukisan Pinisi Ditemukan Dalam Gua Aborigin Pertanda Orang Makassar Lebih Dulu Kontak dengan Aborigin

Gambar perahu phinisi khas Makassar dalam lukisan cadas di Australia menunjukkan interaksi Suku Abvorigin dengan pelayar Bugis atau Makassar sudah lama berlangsung. Hal ini juga menunjukan kebesaran peradaban makassar pada masa lampau yang mungkin melebih kejayaan kerajaan Majaphit yang peninggalannya tidak dapat ditemukan diluar wilayahnya.

Suku Aborigin yang merupakan penduduk asli benua Australia mungkin sudah melakukan interaksi begitu lama dengan para pelayar Bugis atau Makasan dari Makassar. Hal tersebut dapat dilihat dari lukisan cadas yang baru-baru ini ditemukan di Australia utara.

Lukisan tersebut bisa jadi mengubah sejarah nasional Australia yang banyak menjadi referensi selama ini yang cenderung mengagungkan kulit putih. Suku Aborigin umumnya diyakini terisolasi dengan kebudayaan luar sebelum pendatang kulit putih mendiami benua tersebut. Namun, penduduk asli di utara ternyata telah berhubungan dengan orang Makassar. Mungkin ratusan tahun lebih dulu daripada orang-orang Eropa yang datang ke sana tahun 1700-an.

Orang-orang Avorigin bahkan kemungkinan pernah berlayar ke Makassar untuk melihat kebesaran kerajaan Makasar yang ada pada waktu itu. Ini dapat dilihat dari lukisan monyet di atas pohon yang hanya dapat dilihat di Pulau Sulawesi. Gambar rumah-rumah adat Makassar dan perahu phinisi juga tampak di antara ribuan lukisan cadas yang dinding gua dan batuan yang tersebar di kawasan adat Aborigin, Arnhem Land. Lukisan lain menggambarkan tentara-tentara perang dunia II, satwa yang kini telah punah, termasuk barang-barang modern seperti sepeda, pesawat, dan mobil. Lukisan-lukisan tersebut berusia antara 15.000 tahun hingga 50 tahun.

Posted by admin on April-22-2009 one Commented

Sejarah Bugis

Raja Kechil, yang bergelar Sultan Abdul Jalil Rahmat Shah adalah pemerintah awal wilayah Johor, Pahang, Riau, and Linggi. Pada mulanya bertapak di Johor, kemudian Riau, selepas itu apabila baginda membuat keputusan untuk menetap di Siak Sumatra, Daeng Loklok yang bergelar Bendahara Husain ingin mengambil alih pemerentahan Johor tetapi tidak dipersetujui oleh Raja Kechil. Bendahara Husain kemudiannya menemui Raja Sulaiman, putra Almarhum Sultan Kuala Pahang bagi menggunakan pengaruh baginda untuk mendapatkan bantuan 5 beradik Raja Bugis; Daeng Perani, Daeng Menambun, Daeng Merewah, Daeng Chelak and Daeng Kemasi bagi tujuan tersebut.

Sebaik sahaja Raja Bugis menerima utusan dari Raja Sulaiman, angkatan tentera Bugis terus datang dengan 7 buah kapal perang menuju ke Riau. Raja Kechil telah ditumpaskan di Riau dan melarikan diri ke Lingga dalam tahun Hijrah 1134. Sebagai balasan, Raja Sulaiman telah bersetuju permintaan Raja Bugis dimana mereka mahukan supaya raja-raja Bugis dilantik sebagai Yamtuan Besar atau Yang Di-Pertuan Muda, bagi memerintah Johor, Riau and Lingga secara bersama jika semuanya dapat ditawan.

Posted by admin on April-22-2009 Add Comments

Kapal Bugis Najib Tun Razak

Memasuki ruang rapat di Kantor Perdana Menteri (PM) di Kuala Lumpur, hal pertama yang ditanyakan Najib Tun Razak adalah keberadaan miniatur kapal. “Mana tu kapal Bugis?” spontan, tanya pria yang dilantik Yang Dipertuang Agung Malaysia Mizan Zainal Abidin menjadi PM ke-6 Malaysia itu, kepada stafnya.

“Oh sudah ada!” Najib berujar lega setelah tahu miniatur kapal bugis terpajang rapi di lemari dokumen yang menempel di dinding. Miniatur kapal Bugis, merupakan pajangan yang harus ada di ruang kerja PM baru Malaysia itu.

Hal itu mengingatkan Najib akan nenek moyangnya yang rupanya asli Bugis. “Asal usul saya orang Bugis. Tapi, saya Perdana Menteri untuk semua orang Malaysia,” kata putra sulung mantan PM Malaysia kedua, Abdul Razak, itu, saat bertemu tujuh wartawan asal Indonesia, belum lama ini di Kuala Lumpur.

Tak hanya kapal Bugis, lagu, juga menjadi salah satu minat Najib akan hal yang berbau Indonesia. Meski keturunan Bugis, Najib paling suka mendengarkan musik-musik dari Batak. Istrinya, Rosmah Mansor adalah keturunan Minang, Sumatera Barat.

Najib mengaku senang bertemu dengan para jurnalis asal Indonesia. “Selain bertemu dengan pimpinan negara, saya juga hendak bertemu pemimpin kelompok informal di Indonesia, termasuk para jurnalis seperti ini,” harapnya.

Kesediannya untuk diwawancarai sejumlah media, disebut sebagai tanda keseriusannya untuk membuka kebebasan pers.

Sejauh ini, kebebasan pers di Malaysia menduduki posisi 132 dari 173 di dunia. Begitu dilantik, telah pula membebaskan 13 aktivis yang ditahan berdasarkan ISA (Akta Keselamatan Dalam Negeri). Selain itu, Najib juga mengizinkan dua media oposisi yang sempat dibekukan untuk kembali terbit.

Dalam perhelatan “Malam Wartawan Malaysia” yang ditukangi Malaysia’s Press Institute (MPI) di Hotel Istana, Kuala Lumpur, Najib mengklaim bakal mendukung penuh diselenggarakannya sebuah debat dialog nasional demi sebuah transparansi dan akuntabilitas.

Dialog tersebut dipercaya akan menjadi sebuah titik terang bagi pers yang bebas, bersemangat, dan penuh informasi. “Jika kita benar-benar ingin membangun sebuah demokrasi yang responsif terhadap kebutuhan semua lapisan masyarakat, kita membutuhkan sebuah media yang diberikan wewenang untuk secara bertanggung jawab melaporkan apa yang mereka lihat.” ujar Najib